Karakter potensi rawa seluas 720.429 Ha merupakan salah satu tugas pemanfaatan yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII, meliputi dua provinsi yaitu Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bangka Belitung, selain dari konservasi Sungai Musi.

Topografi di pantai timur Provinsi Sumatera Selatan umumnya berupa rawa pasangsurut, ke arah barat berupa dataran rendah yang luas dan lebih ke Barat lagi merupakan Pegunungan Bukit Barisan.

Sedangkan untuk Provinsi Bangka Belitung merupakan dua pulau besar yang terdiri dari Pulau Bangka dan Pulau Belitung dahulunya sebelum adanya pemekaran wilayah keduanya termasuk wilayah Sumatera Selatan.

Wilayah kerja BBWS Sumatera VIII¬† yang mencakup tiga wilayah sungai (WS) yaitu WS Musi, WS Banyuasin, dan WS Sugihan memiliki potensi sumber daya air (SDA) yang baik. Iklim daerah ini tropis dan basah, musim hujan terjadi antara bulan Oktober — Maret, dengan curah hujan rata-rata tahunan sekitar 3.500 mm di daerah pegunungan dan 2.000 mm di daerah dataran sampai ke pantai.

WS Musi terdiri dari DAS Musi, Lakitan, Rawas, Semangus, dan Batang Hari Leko. Wilayah ini memiliki kriteria lintas provinsi.

WS Sugihan dan WS Banyuasin merupakan wilayah dengan kriteria strategis nasional. Dimana WS Sugihan terdiri dari DAS Burung, Gaja Mati, Pelimbangan, Beberi, Olok, Daras, Medang, dan Padang.

WS Banyuasin terdiri dari DAS Banyuasin, Senda, Limau, Ibul, Puntian, Pangkalan Balai, Buluain, Kepayang, Mangsang, Kedawang, Titikan, Mendes, Tungkai, Keluang, Lalan, Supat, dan Lilin.

Sementara itu dalam rangka pengelolaan daerah irigasi (DI) Provinsi Sumatera Selatan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat ada 12 DI meliputi luas 181.903 Ha, sedangkan kewenangan provinsi sejumlah 13 DI dengan luas 21.178 Ha dan kewenangan kabupaten/kota dengan 131 DI dengan luas 34.696 Ha.

Sedangkan pengelolaan DI Provinsi Bangka Belitung terdiri dari kewenangan pusat sejumlah 1 DI dengan luas 8.868 Ha, lalu kewenangan provinsi dengan 5 DI seluas 9.036 Ha dan kewenangan kabupaten/kota sebanyak 38 DI dengan luas 10.017 Ha.

Karakteristik daerah rawa Provinsi Sumatera Selatan

Luas rawa di Provinsi Sumatera Selatan sekitar 613.795 Ha yang terdiri dari 455.949 Ha rawa pasangsurut dan 157.846 Ha rawa lebak. Wilayah kabupaten yang memiliki potensi rawa terluas adalah di Kabupaten Musi Banyuasin dengan total luas 322.821 Ha, yang terdiri dari 320.921 Ha rawa pasangsurut dan 1.100 Ha rawa lebak.

Untuk rawa pasangsurut yang sudah direklamasi seluas 430.121 Ha, dengan gambaran pemanfaatan 182.763 Ha untuk sawah, 56.934 Ha untuk kebun, 7.946 Ha untuk tambak, 95.504 untuk lain-lainnya, dan 68.974 Ha yang belum dimanfaatkan

Reklamasi rawa pasangsurut tidak hanya merupakan tugas dari pemerintah, akan tetapi dari 430.121 Ha yang sudah direklamasi tersebut seluas 45.787 Ha dilaksanakan oleh masyarakat atau swasta.

Sedangkan untuk masih tersisa 25.928 Ha lagi yang belum direklamasi.

Untuk rawa lebak yang sudah direklamasi seluas 120.685 Ha, dengan gambaran pemanfaatan yaitu 48.782 Ha menjadi sawah, 1.500 Ha menjadi kebun, 23.339 Ha untuk lain-lainnya dan 47.064 Ha masih belum dimanfaatkan.

Peran serta dari masyarakat atau swasta untuk melakukan reklamasi seluas 106.785 Ha dari 120.685 Ha. Hal ini menggambarkan bahwa peran aktif dari masyarakat untuk memanfaatkan rawa lebak sudah tinggi.

Sementara itu potensi rawa lebak yang belum direklamasi masih seluas 37.161 Ha lagi.

Karakteristik daerah rawa Provinsi Bangka Belitung

Luas rawa di Provinsi Bangka Belitung sekitar 126.434 Ha yang terdiri dari 55.084 Ha rawa pasangsurut dan 71.350 Ha rawa lebak. Wilayah rawa terluas terdapat di Sungai Balar, Kecamatan Payung seluas 18.000 Ha.

Untuk rawa pasangsurut keseluruhan 1.825 Ha merupakan peran dari masyarakat atau swasta dalam mereklamasinya dan keseluruhannya  dimanfaatkan untuk tambak.

Sedangkan untuk potensi rawa pasangsurut yang belum direklamasi seluas 53.259 Ha.

Untuk rawa lebak dari potensi 71.350 Ha yang sudah direklamasi seluas 59.350 Ha sedangkan yang belum direklamasi seluas 12.000 Ha.

Pemanfaatan rawa lebak yang direklamasi seluas 25.950 Ha untuk sawah, 8.800 Ha untuk kebun, 14.785 Ha untuk lain-lainnya dan 9.815 Ha belum dimanfaatkan.

Kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan potensi rawa lebak sangat tinggi. Terbukti dari 59.350 Ha rawa lebak yang direklamasi 52.398 Ha merupakan peran dari masyarakat atau swasta sedangkan sisanya peran pemerintah seluas 6.952 Ha.

Pengembangan SDA Sungai Musi di Benteng Kuto Besak Kota Palembang

Sungai Musi merupakan salah satu sungai terpanjang di Pulau Sumatera dengan kedalaman yang dapat dilalui kapal-kapal besar. Sungai ini akan menjadi pusat kegiatan wisata air meliputi wilayah Palau Kerto–Pasar, Sekanak–Benteng Kuto Besak–Pasar 16 ilir sampai dengan Pulau Kemaro.

Pada bagian seberang ulu wilayah akan dijadikan sebagai zona water front yang meliputi Kampung Kapiten–Pasar 10 Ulu sampai dengan Bagus Kuning.

Untuk mendukung kegiatan tersebut pembangunan perkuatan tebing DAS Musi melalui konsep turap menjadi prioritas.

Pembangunan turap yang direncanakan berfungsi sebagai dinding untuk menahan kelongsoran tebing sungai terhadap gerusan air, sekaligus berfungsi sebagai pelataran terbuka untuk ruang kegiatan publik.

Dinding turap memikul tekanan lateral tanah aktif dan air, sedangkan tiang turap berfungsi memikul gaya aksial dan lateral yang bekerja pada dinding turap. Kemudian lantai penutup berfungsi sebagai beban aksial (counter weight).

Selain itu kegiatan konservasi sumber daya air dipusatkan pada daerah aliran sungai (DAS)  kritis yang terdapat di Provinsi Sumatera Selatan yaitu DAS Musi (sebagian DAS-nya terletak di Provinsi Bengkulu). Mengakibatkan kurangnya kemampuan DAS untuk menyimpan air di musim kemarau sehingga besaran serta frekuensi banjir semakin meningkat, begitu juga sedimentasi serta pendangkalan waduk dan sungai.